SELAMAT DATANG SOBAT BLOGGER

Friday, August 17, 2012

Bangunlah Dari Mimpi

Bangunlah Dari Mimpi

Ketika aku memejamkan mata, yang aku lihat bukanlah kegelapan, bukan gelap, bukan itu, melainkan sebuah keindahan yang aku lihat. Pancaran kuning putih membuat keindahan itu menetap tepat dalam alunan sepi. Sepasang bulatnya bola mata menatap penuh keanggunan, tanpa air mata, tanpa penipuan. Sepasang bulu mata lentik bak permainan anak kecil turut menghiasi mata indah itu. Alis mata lembut dan tipis menambah keanggunannya. Hidung mancung khas Indonesia melengkapi antara keduanya. Hmm…bibir mungil tipis nan lembut merekah indah dalam senyum, senyuman ikhlas yang penuh akan gairah. Kedua daun telinganya tertutup rapat oleh kerudung berwarna putih namun tak seputih wajah yang selalu saja terlintas kala aku memejamkan mata ini.


“Duhai gadis ayu mempesona, siapakah gerangan namamu? Ingin sekali aku mengenalmu walau hanya sekejap ku menutup mata.”

Gadis itu pun menjawab, “namaku Alya Lamunan”. Kembali ia melemparkan senyum. Lesung pipinya terlihat begitu sempurna.

Jantung ini terus bergetar hebat tak dapat aku kendalikan. Rasanya aku ingin terbang melintasi awan demi awan hingga tiba pada awan terakhir yang aku lewati bersama burung-burung membentuk formasi mata anak panah melaju menembus ruang dan waktu.

Mata ini tak pernah puas untuk menatap kecantikan wajah yang sebelumnya belum pernah aku temui dalam dunia nyata. Sejenak aku buka mata ini dengan harapan wajah itu tetap ada dan nyata. Ah, ternyata wajah itu menghilang dan berganti menjadi tembok-tembok kokoh yang sulit ditembus oleh kekuatan cahaya apapun. Tembok-tembok yang menjadi hijab pemisah antara aku dengan dia yang ada dalam mimpi. Ya, hanya sebatas mimpi dalam harap nyata.

Kembali aku memejamkan mata, dan wajah itu tetap ada dan setia dengan senyumannya dan dia berkata, “kemarilah, ikutlah denganku untuk mengarungi samudera dengan bahtera kehidupan. Hanya bersamaku maka engkau akan tetap tersenyum dalam menjalani kehidupanmu yang begitu pahit. Yakinlah, bila bersamaku engkau akan tetap bahagia.”

Kaget aku mendengarnya. Suara lembut itu tiba-tiba terus terngiang. Rasa tak percaya aku kemudian kembali memejamkan mata dalam pejaman mata. Ku yakinkan itu, dan memang nyata.

Kubuka mataku dalam pejaman mata, kemudian aku bertanya pada gadis itu, “kenapa harus aku yang ikut?” kukerutkan wajah menandakan rasa penasaran.

“Yakinlah engkau akan bahagia bersamaku. Aku tahu engkau tidak akan mungkin bahagia dalam duniamu tanpa kehadiranku. Engkau hanya akan sering melamun dan memikirkan aku, dan kemudian engkau akan jatuh sakit dan mati,” jelasnya.

Dalam keraguan aku memberanikan diri untuk membalikkan kata demi kata yang telah diucapkan oleh gadis itu.

“Bisakah engkau yang ikut denganku. Akan aku bawa engkau dalam duniaku, dunia yang nyata. Aku tak mau engkau terus berada dalam baying-bayang impianku dan hanya berputar dalam fikiranku?”

Gadis itu tidak semudah yang aku kira. Ternyata dia begitu kuat dan tangguh untuk aku raih. Penuh perjuangan untuk dapat menaklukkannya. Diapun berkata, “berikanlah aku satu alasan yang tepat jika itu dapat membuat engkau dan aku bahagia.”

Lalu kuberikan satu alasan yang membuat aku ingin sekali membawanya ke dalam dunia nyata.

“Aku tidak mau engkau hanya sebatas mimpi. Aku ingin engkau nyata. Ingin ku miliki engkau seutuhnya. Meskipun di alam mimpi engkau mutlak menjadi milikku, tetapi aku tidak mau engkau hilang ketika aku membuka mataku. Aku ingin memilikimu. Ikutlah denganku, dan aku ikat engkau dengan tali suci.”

“Bangunlah, dan tatap duniamu. Aku hanya bayangan yang tidak akan menjadi nyata. Walaupun banyak yang mengatakan, teruslah bermimpi, kejarlah mimpi, tetapi tetap saja jika engkau terus-menerus bermimpi, semua mimpimu tidak akan pernah terwujud dalam dunia nyata. Bangkitlah, raihlah mimpimu tanpa mimpiku. Hidupmu masih panjang, lakukan apa saja yang bisa kamu lakukan untuk mewujudkan mimpimu, tidak dalam mimpi. Bangun dan bangkitlah.”

Wusss…segera saja aku bangkit dan teringat akan kalimat terakhir dari gadis tersebut sebelum pergi menghilang dalam gelap. Ya, aku harus memanjakan diri dengan kenyataan, bukan dengan angan-angan. Selamat tinggal mimpi, selamat datang dunia nyata.

Dede Nunu
Sandakala
13 Juni 2012
22.12

Dilombakan pada "Sayembara Cerita Mini Internasional 2012" dalam rangka memperingati Harlah PPI Yaman ke- XI dan Launching Website PPI Yaman 2012.

No comments:

Post a Comment

Ku tunggu komentarmu...