Bangunlah Dari Mimpi
Ketika aku memejamkan
mata, yang aku lihat bukanlah kegelapan, bukan gelap, bukan itu, melainkan
sebuah keindahan yang aku lihat. Pancaran kuning putih membuat keindahan itu
menetap tepat dalam alunan sepi. Sepasang bulatnya bola mata menatap penuh
keanggunan, tanpa air mata, tanpa penipuan. Sepasang bulu mata lentik bak
permainan anak kecil turut menghiasi mata indah itu. Alis mata lembut dan tipis
menambah keanggunannya. Hidung mancung khas Indonesia melengkapi antara
keduanya. Hmm…bibir mungil tipis nan lembut merekah indah dalam senyum,
senyuman ikhlas yang penuh akan gairah. Kedua daun telinganya tertutup rapat
oleh kerudung berwarna putih namun tak seputih wajah yang selalu saja terlintas
kala aku memejamkan mata ini.
“Duhai gadis ayu
mempesona, siapakah gerangan namamu? Ingin sekali aku mengenalmu walau hanya
sekejap ku menutup mata.”
Gadis itu pun
menjawab, “namaku Alya Lamunan”. Kembali ia melemparkan senyum. Lesung pipinya
terlihat begitu sempurna.
Jantung ini terus
bergetar hebat tak dapat aku kendalikan. Rasanya aku ingin terbang melintasi
awan demi awan hingga tiba pada awan terakhir yang aku lewati bersama
burung-burung membentuk formasi mata anak panah melaju menembus ruang dan
waktu.
Mata ini tak pernah
puas untuk menatap kecantikan wajah yang sebelumnya belum pernah aku temui
dalam dunia nyata. Sejenak aku buka mata ini dengan harapan wajah itu tetap ada
dan nyata. Ah, ternyata wajah itu menghilang dan berganti menjadi tembok-tembok
kokoh yang sulit ditembus oleh kekuatan cahaya apapun. Tembok-tembok yang
menjadi hijab pemisah antara aku dengan dia yang ada dalam mimpi. Ya, hanya
sebatas mimpi dalam harap nyata.
Kembali aku
memejamkan mata, dan wajah itu tetap ada dan setia dengan senyumannya dan dia
berkata, “kemarilah, ikutlah denganku untuk mengarungi samudera dengan bahtera
kehidupan. Hanya bersamaku maka engkau akan tetap tersenyum dalam menjalani
kehidupanmu yang begitu pahit. Yakinlah, bila bersamaku engkau akan tetap bahagia.”
Kaget aku
mendengarnya. Suara lembut itu tiba-tiba terus terngiang. Rasa tak percaya aku
kemudian kembali memejamkan mata dalam pejaman mata. Ku yakinkan itu, dan
memang nyata.
Kubuka mataku dalam
pejaman mata, kemudian aku bertanya pada gadis itu, “kenapa harus aku yang
ikut?” kukerutkan wajah menandakan rasa penasaran.
“Yakinlah engkau akan
bahagia bersamaku. Aku tahu engkau tidak akan mungkin bahagia dalam duniamu
tanpa kehadiranku. Engkau hanya akan sering melamun dan memikirkan aku, dan
kemudian engkau akan jatuh sakit dan mati,” jelasnya.
Dalam keraguan aku
memberanikan diri untuk membalikkan kata demi kata yang telah diucapkan oleh
gadis itu.
“Bisakah engkau yang
ikut denganku. Akan aku bawa engkau dalam duniaku, dunia yang nyata. Aku tak
mau engkau terus berada dalam baying-bayang impianku dan hanya berputar dalam
fikiranku?”
Gadis itu tidak
semudah yang aku kira. Ternyata dia begitu kuat dan tangguh untuk aku raih.
Penuh perjuangan untuk dapat menaklukkannya. Diapun berkata, “berikanlah aku
satu alasan yang tepat jika itu dapat membuat engkau dan aku bahagia.”
Lalu kuberikan satu
alasan yang membuat aku ingin sekali membawanya ke dalam dunia nyata.
“Aku tidak mau engkau
hanya sebatas mimpi. Aku ingin engkau nyata. Ingin ku miliki engkau seutuhnya.
Meskipun di alam mimpi engkau mutlak menjadi milikku, tetapi aku tidak mau
engkau hilang ketika aku membuka mataku. Aku ingin memilikimu. Ikutlah
denganku, dan aku ikat engkau dengan tali suci.”
“Bangunlah, dan tatap
duniamu. Aku hanya bayangan yang tidak akan menjadi nyata. Walaupun banyak yang
mengatakan, teruslah bermimpi, kejarlah mimpi, tetapi tetap saja jika engkau
terus-menerus bermimpi, semua mimpimu tidak akan pernah terwujud dalam dunia nyata.
Bangkitlah, raihlah mimpimu tanpa mimpiku. Hidupmu masih panjang, lakukan apa
saja yang bisa kamu lakukan untuk mewujudkan mimpimu, tidak dalam mimpi. Bangun
dan bangkitlah.”
Wusss…segera saja aku
bangkit dan teringat akan kalimat terakhir dari gadis tersebut sebelum pergi
menghilang dalam gelap. Ya, aku harus memanjakan diri dengan kenyataan, bukan
dengan angan-angan. Selamat tinggal mimpi, selamat datang dunia nyata.
Dede Nunu
Sandakala
13 Juni 2012
22.12
Dilombakan pada
"Sayembara Cerita Mini Internasional 2012" dalam rangka memperingati
Harlah PPI Yaman ke- XI dan Launching Website PPI Yaman 2012.
No comments:
Post a Comment
Ku tunggu komentarmu...