HAYILAATUM ATUMI
SI BUNGA MELATI
Sore Hari Yang
Menegangkan Part II
Rasa bahagia menyelimuti sekujur tubuhku. Pesan singkat yang
aku kirimkan pada yang bernama “Hayilaatum Atumi”, akhirnya mendapatkan respon
positif. Aku balas pesan singkat itu, aku katakan padanya, “aku di fakultas
keguruan. Nanti ke sini aja ya”. Kemudian dia membalasnya, “iya kak”.
Aku menunggu kedatangannya dengan membaca buku Sejarah Tuhan.
Apa yang aku dapatkan ternyata bukan hanya informasi, tetapi banyak
kalimat-kalimat puitis yang mengandung filosofi yang amat mendalam. Kalimat yang
tidak statis, dapat digunakan dalam hal apapun dan dalam kondisi apapun,
termasuk cinta.
Tidak lama kemudian, hanphoneku bergetar. Aku mendapatkan
pesan singkat dari yang bernama “Hayilaatum Atumi”.
“kak, kakak mau ga kalo nunggu ila di deket audit, ila mau
ketemu fala temen kelas ila dulu di depan bank?”.
Aku dengan segera membalasnya, “di keguruan aja, lebih adem. Aku
lagi ngopi nih. Ya udah, aku tunggu ya”.
“ya udah bentar”, balasnya.
Aku kembali menunggu kedatangannya. Aku berfikir, kira-kira
apa yang akan aku bicarakan sore ini, karena tidak mungkin akan diam saja. Tetapi
tiba-tiba dia mengirimkan pesan singkat, “sebentar kak, ila lagi ketemu fala”. Kali
ini aku tidak membalasnya, karena aku yakin dia akan datang untuk menemuiku. Dia
tidak pernah mengingkari janjinya.
“shalat kak”, kembali aku mendapatkan pesan darinya.
“sudah tadi”. Aku memang sudah shalat ashar sebelum
melangkahkan kaki menuju kampus.
“enjih”, balasnya.
Aku merasa bahagia ketika ada seorang gadis yang aku cintai
mengingatkan aku untuk beribadah kepada Tuhan. Gambaran seorang gadis yang taat
dalam beribadah dan seorang gadis yang menjadi dambaan kau pria. Sungguh beruntung
jika aku bisa menjadikannya sebagai seorang permaisuri. Karena aku belum
memberitahukan tempat aku menunggunya secara spesifik, dia pun bertanya, “kak, di mana?
“di parkiran fakultas keguruan sebelah barat dari pintu utama
menghadap ke utara”. Itu adalah tempat dimana aku menunggu bunga melati yang
selalu menghiasi lamunan alam bawah sadarku. Seandainya aku mengetahui titik
koordinat dimana aku berada, pasti aku akan memberitahukannya.
Tidak lama setelah itu, dia tiba dan langsung duduk di sampingku secara dekat, dekat sekali dan seakan-akan sudah mencium aroma tubuhku dari radius satu kilometer. Padahal aku
membelakanginya. Dia duduk di samping kiriku. Posisi yang sangat nyaman bagiku
ketika bersama dengan lawan jenis. Karena memang aku sering melirik dari kanan
ke kiri. Kedatangannya yang tiba-tiba membuatku gugup dan menambah
getaran-getaran dalam diri. Aku mencoba untuk tetap tenang. Aku mengatakan
padanya, “hai, apa kabar!”. Kami pun memulai pembicaraan di sore hari yang panas
bercampur dengan semilir angin yang membawa kesejukan hingga panas tak terasa.
“Alhamdulillah baik kak. Kakak sendiri gimana?”
“Alhamdulillah baik juga”.
Kira-kira apa yang akan diperbincangkan oleh mereka? Tunggu kisah
selanjutnya di Part III.
Dede Nunu Purbaya
IMMAN
Halaman 1
20
Juli 2012
21.52

go go.. hehe
ReplyDeletehehe...udah males nih bikin cerita lanjutannya...ada tips2 ga nih de...???
Delete