SELAMAT DATANG SOBAT BLOGGER

Wednesday, July 18, 2012

Hayilaatum Atumi Si Bunga Melati: Pesan Singkat Part II


Kelanjutan cerita tentang pesan singkat yang sama... Selamat menikmati...

HAYILAATUM ATUMI SI BUNGA MELATI
Pesan Singkat Part II

Cukup lama aku menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan sesuatu yang berbentuk abstraksi tanpa literatur. Aku semakin hari semakin merasa letih menahan rasa ini. Pada awalnya aku berfikir bahwa aku sedang sesak nafas, namun sebanyak apapun air jahe yang aku minum, sakitnya masih tetap terasa. Entah mengapa sesuatu yang aku rasakan ini, semakin terasa berat hingga mata ini berubah menjadi mata air mata. Tiada dam yang dapat menahannya, layaknya permainan Total Football yang terus mengalir deras hingga Catenaccio pun bisa tertembus.


Tak terasa waktu berputar membawa aliran darah yang hampir membeku hingga tiba di muara. Bercampur dengan darah panas dan berubah menjadi hangat. Kehangatan yang selama ini aku rindukan, namun hingga kini belum ada seseorang yang mampu untuk memberikan kehangatan itu. Tetapi aku telah menemukan seorang gadis yang dapat memberiku kehangatan, hanya saja gadis itu belum bersedia untuk memberikannya. Dalam hati aku bergumam dalam keadaan tak sadar, “Jika saja dia mau memberiku kehangatan, akan aku berikan pula kehangatan yang lebih hingga dinginnya dunia tidak akan terasa lagi”.

Ujian akhir semester sudah selesai. Rasa bahagia menghiasi hari-hariku, karena sudah tidak ada lagi alasan untuk menghabiskan waktu dengan buku-buku yang telah mengisolasi kebebasan gadis itu. Gadis yang bernama “Hayilaatum Atumi”. Gadis yang selama ini aku damba dan aku harapkan untuk menjadi bunga melati di hatiku. Bunga yang akan memberikan respon dari rangkaian kata-kata stimulus dan senantiasa menghiasi hari-hariku hingga waktu berhenti berjalan, mengakhiri masa-masa hidupku. Dia, bunga melatiku…

Kuberanikan diri untuk menggenggam handphone yang ada dalam saku celana depan dan kembali kurangkaikan kata-kata manis yang menurutku begitu indah hingga perlu waktu untuk menuliskannya. Aku merasa beruntung diberikan anugerah berupa jari-jemari yang lincah. Sesulit apapun kata-kata itu, bisa dengan mudah kurangkai. Ku kirimkan pesan singkat yang berisikan kalimat ajakan penuh harap untuk bertemu kepada yang bernama “Hayilaatum Atumi”. ku pejamkan mata sembari mengucap doa, “Tuhan, semoga hari ini aku bisa bertemu dengan bunga melati tambatan hatiku”.

Kembali aku diliputi oleh rasa gelisah yang selalu menghantui diri ini. Cukup lama aku menunggu balasan pesan singkat dari yang bernama “Hayilaatum Atumi”. Getaran-getaran itu kembali terasa dan mengalir deras tanpa bisa dikendalikan. Ku tenangkan diri ini dengan menghisap asap tembakau dalam kertas khusus bercampur cengkeh yang dikenal dengan nama rokok melalui busa padat yang berfungsi untuk mengurangi zat nikotin yang terkandung di dalamnya. Ku sandingkan dengan campuran air kopi dengan jamu herbal berbentuk cairan berwarna hitam dan memili rasa mint. Kawan-kawanku menyebutnya “Kopi Tolak Bala”.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Akhirnya yang aku tunggu datang juga. Handphoneku bergetar. Ku lihat pesan singkat dari yang bernama “Hayilaatum Atumi” telah sampai padaku. Ku baca perlahan-lahan pesan singkat yang cukup panjang. Pesan itu tertulis, “maaf kak, ila ada acara kelas, dua hari di luar kota…”. DUUUAAAAAAAAAAARRRRR……….!!!!!!!!! Laksana petir menyambar, hatiku terkoyak, hancur berkeping-keping ketika membaca pesan itu. Harapan itu kembali hilang. Entah dengan cara apa lagi aku harus menahan getaran-getaran yang semakin hari semakin membuatku sakit.

Aku mencoba untuk tetap tenang. Kembali ku hisap rokok dan menengguk Kopi Tolak Bala racikanku sendiri. Ku kirimkan balasan dari pesan singkat yang dia kirimkan. Kutuliskan kalimat, “Oh, selamat berlibur dan bersenang senang…hati-hati di jalan ya…”. Huft…apapun yang terjadi, aku akan berusaha untuk tetap tegar di matanya. Sebenarnya aku sudah mengetahui jauh-jauh hari sebelumnya dia akan ke mana tanpa dia ketahui.

Sementara aku masih menunggu dia kembali dari ujung barat laut pulau Jawa dengan penuh tanda Tanya. Apa kabarnya, bagaimana keadaannya, dengan siapa dia di sana, hingga ku tuliskan cerita ini bersama pena kesayanganku menari.



Dede Nunu Purbaya
IMMAN Halaman 1
18 Juli 2012
20.23

No comments:

Post a Comment

Ku tunggu komentarmu...