Kelanjutan cerita tentang pesan singkat yang sama... Selamat menikmati...
HAYILAATUM ATUMI
SI BUNGA MELATI
Pesan Singkat Part
II
Cukup lama aku menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan
sesuatu yang berbentuk abstraksi tanpa literatur. Aku semakin hari semakin
merasa letih menahan rasa ini. Pada awalnya aku berfikir bahwa aku sedang sesak
nafas, namun sebanyak apapun air jahe yang aku minum, sakitnya masih tetap
terasa. Entah mengapa sesuatu yang aku rasakan ini, semakin terasa berat hingga
mata ini berubah menjadi mata air mata. Tiada dam yang dapat menahannya,
layaknya permainan Total Football yang terus mengalir deras hingga Catenaccio
pun bisa tertembus.
Tak terasa waktu berputar membawa aliran darah yang hampir
membeku hingga tiba di muara. Bercampur dengan darah panas dan berubah menjadi
hangat. Kehangatan yang selama ini aku rindukan, namun hingga kini belum ada
seseorang yang mampu untuk memberikan kehangatan itu. Tetapi aku telah
menemukan seorang gadis yang dapat memberiku kehangatan, hanya saja gadis itu
belum bersedia untuk memberikannya. Dalam hati aku bergumam dalam keadaan tak
sadar, “Jika saja dia mau memberiku kehangatan, akan aku berikan pula
kehangatan yang lebih hingga dinginnya dunia tidak akan terasa lagi”.
Ujian akhir semester sudah selesai. Rasa bahagia menghiasi
hari-hariku, karena sudah tidak ada lagi alasan untuk menghabiskan waktu dengan
buku-buku yang telah mengisolasi kebebasan gadis itu. Gadis yang bernama “Hayilaatum
Atumi”. Gadis yang selama ini aku damba dan aku harapkan untuk menjadi bunga
melati di hatiku. Bunga yang akan memberikan respon dari rangkaian kata-kata
stimulus dan senantiasa menghiasi hari-hariku hingga waktu berhenti berjalan,
mengakhiri masa-masa hidupku. Dia, bunga melatiku…
Kuberanikan diri untuk menggenggam handphone yang ada dalam
saku celana depan dan kembali kurangkaikan kata-kata manis yang menurutku
begitu indah hingga perlu waktu untuk menuliskannya. Aku merasa beruntung
diberikan anugerah berupa jari-jemari yang lincah. Sesulit apapun kata-kata
itu, bisa dengan mudah kurangkai. Ku kirimkan pesan singkat yang berisikan
kalimat ajakan penuh harap untuk bertemu kepada yang bernama “Hayilaatum Atumi”.
ku pejamkan mata sembari mengucap doa, “Tuhan, semoga hari ini aku bisa
bertemu dengan bunga melati tambatan hatiku”.
Kembali aku diliputi oleh rasa gelisah yang selalu menghantui
diri ini. Cukup lama aku menunggu balasan pesan singkat dari yang bernama “Hayilaatum
Atumi”. Getaran-getaran itu kembali terasa dan mengalir deras tanpa bisa
dikendalikan. Ku tenangkan diri ini dengan menghisap asap tembakau dalam kertas
khusus bercampur cengkeh yang dikenal dengan nama rokok melalui busa padat yang
berfungsi untuk mengurangi zat nikotin yang terkandung di dalamnya. Ku sandingkan
dengan campuran air kopi dengan jamu herbal berbentuk cairan berwarna hitam dan
memili rasa mint. Kawan-kawanku menyebutnya “Kopi Tolak Bala”.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Akhirnya yang aku tunggu datang
juga. Handphoneku bergetar. Ku lihat pesan singkat dari yang bernama “Hayilaatum
Atumi” telah sampai padaku. Ku baca perlahan-lahan pesan singkat yang cukup
panjang. Pesan itu tertulis, “maaf kak, ila ada acara kelas, dua hari di
luar kota…”. DUUUAAAAAAAAAAARRRRR……….!!!!!!!!! Laksana petir menyambar,
hatiku terkoyak, hancur berkeping-keping ketika membaca pesan itu. Harapan itu
kembali hilang. Entah dengan cara apa lagi aku harus menahan getaran-getaran
yang semakin hari semakin membuatku sakit.
Aku mencoba untuk tetap tenang. Kembali ku hisap rokok dan
menengguk Kopi Tolak Bala racikanku sendiri. Ku kirimkan balasan dari pesan
singkat yang dia kirimkan. Kutuliskan kalimat, “Oh, selamat berlibur dan
bersenang senang…hati-hati di jalan ya…”. Huft…apapun yang terjadi, aku
akan berusaha untuk tetap tegar di matanya. Sebenarnya aku sudah mengetahui
jauh-jauh hari sebelumnya dia akan ke mana tanpa dia ketahui.
Sementara aku masih menunggu dia kembali dari ujung barat
laut pulau Jawa dengan penuh tanda Tanya. Apa kabarnya, bagaimana keadaannya, dengan
siapa dia di sana, hingga ku tuliskan cerita ini bersama pena kesayanganku
menari.
IMMAN
Halaman 1
18
Juli 2012
20.23

No comments:
Post a Comment
Ku tunggu komentarmu...