HAYILAATUM ATUMI
SI BUNGA MELATI
Sore Hari Yang
Menegangkan Part I
Panas terik matahari semakin terasa hingga membuat mataku
lelah untuk menatap hamparan pasir yang kini berubah menjadi adukan semen. Aku mencoba
untuk berlindung dari cahaya terang yang dipantulkan oleh adukan semen itu di
suatu tempat yang menjadi favoritku, yaitu kamar. Ya, kamar. Karena kamar
adalah tempat yang paling nyaman untuk berteduh sambil berbaring memanjakan
tubuh ini sembari memejamkan mata. Mencari ide-ide kreatif untuk memanfaatkan
waktu luang yang kadang hanya menghabiskan umurku dan terbuang sia-sia.
Ternyata tidak sia-sia aku berbaring. Au memberanikan diri
untuk melakukan sesuatu yang jarang sekali aku lakukan. Dan kali ini aku harus
melakukannya. Membaca buku. Ya membaca buku. Dan buku yang akan aku baca adalah
buku tentang “Sejarah Tuhan” karya Karen Armstrong. Buku yang sulit aku
taklukkan walaupun aku harus kembali mengulang ke halaman awal untuk menambah
pemahamanku tentang pesan yang terkandung dalam buku itu. Buku itu juga telah
sangat berjasa dalam hidupku, karena buku itu telah membantuku untuk melupakan
seorang gadis berdarah campuran antar suku. Dia yang kini entah berada di mana.
Kamar sempit tempat aku berteduh yang biasa disebut Rumah
Sangat Sederhana Sekali Sehingga Selonjor Saja Susah, disingkat RS7 ternyata
tidak bisa memberikan kenyamanan untuk membaca, karena kamar ini penuh sesak
dengan makhluk-makhluk satu spesies dan satu jenis, yaitu kawan-kawan aku yang
sama-sama berteduh dari ganasnya sengatan matahari. Aku memutuskan untuk
berpindah ke salah satu tempat favoritku yang lain. Tempat yang memiliki
kenyamanan untuk memanjakan mata hingga jernih, diiringi dengan alunan alam
yang semilir berhembus, membuat tubuhkku sejuk. Tempat itu tak lain adalah
basement Fakultas Keguruan. Tempat di mana calon ibu guru berkumpul untuk
menimba ilmu. Tempat gadis-gadis cantik, seksi dan wow begitu indahnya. Sangat disayangkan
jika tidak dilihat, karena jika tidak melihatnya maka akan menjadi bagian dari
orang-orang yang merugi.
Aku mengenakan seragam nongkrong ketika aku meninggalkan
kamar. Kaos ketat berwarna hitam yang dipadukan dengan jaket kain serupa
kemejan yang juga berwarna hitam bertuliskan dibagian belakangnya, “Ingat
Tujuan Dari Rumah”. Tidak lupa pula aku mengenakan celana jeans cut bray yang
menjadi andalan. Yang jelas tidak pernah aku tinggal adalah tas kecil berwarna
biru tua dengan tali tambang yang menjadi pengikat antara aku dengan tas kecil
itu. Sekarang, ta situ telah berusia lima tahun.
Aku melangkah perlahan menuju tempat yang dituju dengan
senyum keceriaan. Langkah kakiku terhenti di depan pintu kantin yang ada di
fakultas itu. Aku meluangkan waktu untuk menukarkan uang receh yang selalu saja
menggangguku ketika berjalan dengan satu gelas kopi favoritku. Tetapi kopi yang
masih asli dan belum aku racik dengan ramuan khusus. Aku hanya menukarnya
dengan satu gelas kopi saja, karena memang tidak ada lagi kawan yang akan
menemaniku untuk menaklukkan “Sejarah Tuhan” selain kopi manis dan rokok.
Aku menikmati pemandangan-pemandangan indah yang tampak di
depan mata. Seiring dengan angin berhembus, objek yang aku lihat pun silih
berganti satu persatu. Namun dari kesemuanya, tidak ada yang dapat membuat
mataku melotot terpaku pada satu target hingga membuat leherku terkilir. Aku menikmati
hari ini dengan meneguk kopi manis dan menghisap rokok yang sudah siap untuk
menyatu dalam alunan sepi.
Aku buka halaman demi halaman. Aku baca secara perlahan-lahan
hingga terlintas dalam fikiranku tentang kehadirannya. Andai saja dia di sini. Aku
memberanikan diri untuk mengajaknya menikmati suasana ini dengan berdiskusi
menyatukan fikiran dari hati ke hati. Kembali aku menggenggam handphoneku. Kurangkai
kata demi kata dan berubah menjadi kalimat, “ila nanti sore ada waktu kosong? Aku
lagi nongkrong nih di kampus”. Aku kirimkan kalimat itu dalam layanan pesan
singkat kepada yang bernama “Hayilaatum Atumi”.
Kali ini tidak perlu menunggu dalam waktu yang lama. Bunga
melatiku membalas pesan singkat dariku. Berubah perasaanku dengan seketika. Pesan
itu tertulis, “iya kak, nanti ila ke kampus. Kakak dimananya…?”
Apakah yang akan terjadi…??? Tunggu kisah berikutnya.
Dede Nunu Purbaya
IMMAN
Halaman 1
19 Juli 2012
20.03

No comments:
Post a Comment
Ku tunggu komentarmu...