SELAMAT DATANG SOBAT BLOGGER

Friday, July 20, 2012

Hayilaatum Atumi Si Bunga Melati: Sore Hari Yang Menegangkan Part I


HAYILAATUM ATUMI SI BUNGA MELATI
Sore Hari Yang Menegangkan Part I

Panas terik matahari semakin terasa hingga membuat mataku lelah untuk menatap hamparan pasir yang kini berubah menjadi adukan semen. Aku mencoba untuk berlindung dari cahaya terang yang dipantulkan oleh adukan semen itu di suatu tempat yang menjadi favoritku, yaitu kamar. Ya, kamar. Karena kamar adalah tempat yang paling nyaman untuk berteduh sambil berbaring memanjakan tubuh ini sembari memejamkan mata. Mencari ide-ide kreatif untuk memanfaatkan waktu luang yang kadang hanya menghabiskan umurku dan terbuang sia-sia.


Ternyata tidak sia-sia aku berbaring. Au memberanikan diri untuk melakukan sesuatu yang jarang sekali aku lakukan. Dan kali ini aku harus melakukannya. Membaca buku. Ya membaca buku. Dan buku yang akan aku baca adalah buku tentang “Sejarah Tuhan” karya Karen Armstrong. Buku yang sulit aku taklukkan walaupun aku harus kembali mengulang ke halaman awal untuk menambah pemahamanku tentang pesan yang terkandung dalam buku itu. Buku itu juga telah sangat berjasa dalam hidupku, karena buku itu telah membantuku untuk melupakan seorang gadis berdarah campuran antar suku. Dia yang kini entah berada di mana.

Kamar sempit tempat aku berteduh yang biasa disebut Rumah Sangat Sederhana Sekali Sehingga Selonjor Saja Susah, disingkat RS7 ternyata tidak bisa memberikan kenyamanan untuk membaca, karena kamar ini penuh sesak dengan makhluk-makhluk satu spesies dan satu jenis, yaitu kawan-kawan aku yang sama-sama berteduh dari ganasnya sengatan matahari. Aku memutuskan untuk berpindah ke salah satu tempat favoritku yang lain. Tempat yang memiliki kenyamanan untuk memanjakan mata hingga jernih, diiringi dengan alunan alam yang semilir berhembus, membuat tubuhkku sejuk. Tempat itu tak lain adalah basement Fakultas Keguruan. Tempat di mana calon ibu guru berkumpul untuk menimba ilmu. Tempat gadis-gadis cantik, seksi dan wow begitu indahnya. Sangat disayangkan jika tidak dilihat, karena jika tidak melihatnya maka akan menjadi bagian dari orang-orang yang merugi.

Aku mengenakan seragam nongkrong ketika aku meninggalkan kamar. Kaos ketat berwarna hitam yang dipadukan dengan jaket kain serupa kemejan yang juga berwarna hitam bertuliskan dibagian belakangnya, “Ingat Tujuan Dari Rumah”. Tidak lupa pula aku mengenakan celana jeans cut bray yang menjadi andalan. Yang jelas tidak pernah aku tinggal adalah tas kecil berwarna biru tua dengan tali tambang yang menjadi pengikat antara aku dengan tas kecil itu. Sekarang, ta situ telah berusia lima tahun.

Aku melangkah perlahan menuju tempat yang dituju dengan senyum keceriaan. Langkah kakiku terhenti di depan pintu kantin yang ada di fakultas itu. Aku meluangkan waktu untuk menukarkan uang receh yang selalu saja menggangguku ketika berjalan dengan satu gelas kopi favoritku. Tetapi kopi yang masih asli dan belum aku racik dengan ramuan khusus. Aku hanya menukarnya dengan satu gelas kopi saja, karena memang tidak ada lagi kawan yang akan menemaniku untuk menaklukkan “Sejarah Tuhan” selain kopi manis dan rokok.

Aku menikmati pemandangan-pemandangan indah yang tampak di depan mata. Seiring dengan angin berhembus, objek yang aku lihat pun silih berganti satu persatu. Namun dari kesemuanya, tidak ada yang dapat membuat mataku melotot terpaku pada satu target hingga membuat leherku terkilir. Aku menikmati hari ini dengan meneguk kopi manis dan menghisap rokok yang sudah siap untuk menyatu dalam alunan sepi.

Aku buka halaman demi halaman. Aku baca secara perlahan-lahan hingga terlintas dalam fikiranku tentang kehadirannya. Andai saja dia di sini. Aku memberanikan diri untuk mengajaknya menikmati suasana ini dengan berdiskusi menyatukan fikiran dari hati ke hati. Kembali aku menggenggam handphoneku. Kurangkai kata demi kata dan berubah menjadi kalimat, “ila nanti sore ada waktu kosong? Aku lagi nongkrong nih di kampus”. Aku kirimkan kalimat itu dalam layanan pesan singkat kepada yang bernama “Hayilaatum Atumi”.

Kali ini tidak perlu menunggu dalam waktu yang lama. Bunga melatiku membalas pesan singkat dariku. Berubah perasaanku dengan seketika. Pesan itu tertulis, “iya kak, nanti ila ke kampus. Kakak dimananya…?”

Apakah yang akan terjadi…??? Tunggu kisah berikutnya.


Dede Nunu Purbaya
IMMAN Halaman 1
19 Juli 2012
20.03

No comments:

Post a Comment

Ku tunggu komentarmu...